Makassar, 2026 Refleksi seorang pengajar di sela deru dunia digital.
Di sebuah sudut kafe di Makassar, seorang pria paruh baya duduk menatap layar laptopnya. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, menyusun baris demi baris kode yang akan mengatur bagaimana ribuan data mengalir secara paralel di sebuah peladen awan. Baginya, dunia adalah kumpulan algoritma yang harus dioptimasi agar efisien.
Namun, sore itu ia tertegun. Di depannya, seorang anak kecil sedang asyik bermain dengan bayangannya sendiri di lantai. Anak itu tidak butuh internet kencang, tidak butuh prosesor multi-core, dan tidak peduli pada efisiensi. Ia hanya butuh imajinasi.
Secara ontologis, bayangan anak itu ada, meski tak bisa disentuh. Namun bagi si pria, segala sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka seringkali dianggap tidak ada. Kita, manusia modern, seringkali terjebak dalam "kepastian" angka-angka. Kita merasa paling tahu karena memiliki data (secara epistemologis), tapi kita sering lupa menanyakan untuk apa semua data itu dikumpulkan.
Kita membangun jembatan digital yang menghubungkan benua, tapi sering gagal membangun jembatan empati dengan orang yang duduk tepat di depan kita. Kita terlalu sibuk mengoptimasi sistem, namun lupa mengoptimasi hati.
Di era kecerdasan buatan dan komputasi masif ini, kita tidak boleh kehilangan "ketidakpastian" yang manusiawi seperti rasa ragu yang melahirkan hikmah, atau imajinasi yang melahirkan mimpi. Karena pada akhirnya, teknologi sehebat apa pun hanyalah alat. Jiwa manusialah yang tetap menjadi nakhodanya.
Obrolan Bersama Nuim Khayyat.
Kepastian mungkin memberikan kita kenyamanan, tetapi imajinasi dan ketidaktahuanlah yang memberi kita ruang untuk terus bertumbuh.
Hari ini, saya memilih untuk menjadi anak kecil itu kembali sebentar saja. Membiarkan imajinasi mengambil alih kemudi, sebelum kembali ke balik layar untuk menyusun dunia digital yang lebih manusiawi.
Fadly Kasim
Di sebuah sudut kafe di Makassar, seorang pria paruh baya duduk menatap layar laptopnya. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, menyusun baris demi baris kode yang akan mengatur bagaimana ribuan data mengalir secara paralel di sebuah peladen awan. Baginya, dunia adalah kumpulan algoritma yang harus dioptimasi agar efisien.
Namun, sore itu ia tertegun. Di depannya, seorang anak kecil sedang asyik bermain dengan bayangannya sendiri di lantai. Anak itu tidak butuh internet kencang, tidak butuh prosesor multi-core, dan tidak peduli pada efisiensi. Ia hanya butuh imajinasi.
Secara ontologis, bayangan anak itu ada, meski tak bisa disentuh. Namun bagi si pria, segala sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka seringkali dianggap tidak ada. Kita, manusia modern, seringkali terjebak dalam "kepastian" angka-angka. Kita merasa paling tahu karena memiliki data (secara epistemologis), tapi kita sering lupa menanyakan untuk apa semua data itu dikumpulkan.
Kita membangun jembatan digital yang menghubungkan benua, tapi sering gagal membangun jembatan empati dengan orang yang duduk tepat di depan kita. Kita terlalu sibuk mengoptimasi sistem, namun lupa mengoptimasi hati.
Di era kecerdasan buatan dan komputasi masif ini, kita tidak boleh kehilangan "ketidakpastian" yang manusiawi seperti rasa ragu yang melahirkan hikmah, atau imajinasi yang melahirkan mimpi. Karena pada akhirnya, teknologi sehebat apa pun hanyalah alat. Jiwa manusialah yang tetap menjadi nakhodanya.
Obrolan Bersama Nuim Khayyat.
Kepastian mungkin memberikan kita kenyamanan, tetapi imajinasi dan ketidaktahuanlah yang memberi kita ruang untuk terus bertumbuh.
Hari ini, saya memilih untuk menjadi anak kecil itu kembali sebentar saja. Membiarkan imajinasi mengambil alih kemudi, sebelum kembali ke balik layar untuk menyusun dunia digital yang lebih manusiawi.
Fadly Kasim

0 komentar:
Posting Komentar